gaya gw

gaya gw

Selasa, 12 Juli 2011

"Reproduksi Tumbuhan"

ABSTRAK


Praktikum yang berjudul ”Reproduksi Tumbuhan” bertujuan untuk mempelajari dan mengenal sistem reproduksi pada tumbuhan. Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jum’at, tanggal 20 Maret 2009, mulai pukul 13.30 WIB sampai dengan selesai. Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah silet. Sedangkan bahan yang digunakan adalah Alamanda sp, Caesalpinia pulcherrima, Carica papaya, Canna sp, Hibiscus rosasinensis, Pinus merkusii, dan Vanda sp.. Dari praktikum yang telah dilaksanakan didapatkan hasil adalah berupa gambar organ-organ reproduksi tumbuhan baik jantan maupun betina. Kesimpulan yang dapat diambil yaitu reproduksi atau perkembangbiakan adalah kemampuan organisme untuk menghasilkan organisme baru yang sama dengan dirinya, yakni perkembangbiakan tidak kawin dan perkembangbiakan secara kawin.
































BAB I
PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang
Organisme yang mempunyai tingkat reproduksi tinggi memiliki kemungkinan yang lebih besar untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya apabila dibandingkan dengan organisme yang mempunyai tingkat reproduksi rendah (Anonima 2009 : 1).
Reproduksi (perkembangbiakan) merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Dengan reproduksi maka makhluk hidup dapat mempertahankan kelangsungan jenisnya (spesies) sehingga tidak punah (Anonimc 2009 : 1).
Reproduksi vegetatif pada tumbuhan berbiji dapat dibedakan menjadi dua macam. yaitu reproduksi vegetatif alami dan reproduksi vegetatif buatan. Reproduksi vegetatif alami adalah reproduksi vegetatif yang terjadi secara alami (tanpa campur tangan manusia), sedangkan reproduksi vegetatif buatan adalah reproduksi vegetatif dengan bantuan manusia (Anonima 2009 : 1).
Reproduksi pada tumbuhan dapat berlangsung secara vegetatif (aseksual = tidak kawin), generatif (seksual=kawin), dan metagenesis (vegetatif dan generatif secara bergantian) (Anonimc 2009 : 1).
Perkembangbiakan secara alami adalah berkembang biaknya tumbuhan tanpa bantuan tangan manusia untuk terjadi pembuahan / anakan tanaman baru. Reproduksi vegetatif buatan atau perbanyakan vegetatif dalam pertanian dan botani merupakan sekumpulan teknik untuk menghasilkan individu baru tanpa melalui perkawinan (Anonimb 2009 : 1).
Pada tumbuhan, sebelum terjadi proses pembuahan (fertilisasi), terjadi proses penyerbukan/persarian (polinasi). Pada tumbuhan biji tertutup (Angiospermae). Penyerbukan adalah peristiwa jatuhnya melekatnya serbuk sari di kepala putik. Pada tumbuhan biji tertutup (Gymnospermae) penyerbukan adalah melekatnya serbuk sari langsung pada bakal biji (Anonima 2009 : 1).
Perbanyakan vegetatif menghasilkan keturunan yang disebut klon. Karena itu, perbanyakan vegetatif dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kloning ("pembuatan klon"). Klon sebenarnya adalah salinan penuh dari individu induknya karena mewariskan semua karakteristik genetik maupun fenotipik dari induknya. Fenotipe dapat berbeda pada beberapa teknik perbanyakan vegetatif tertentu yang merupakan gabungan dua individu (Anonimb 2009 : 1).
Reproduksi seksual pada tumbuhan terjadi pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka, misalnya pinus, cemara, melinjo, damar, dan pakis haji), dan Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup yaitu monokotil dan dikotil)
(Anonimc 2009 : 1).
Pada tumbuhan, klon seringkali telah mencapai tingkat kedewasaan tertentu sewaktu ditanam sehingga biasanya disukai oleh petani karena waktu tunggu untuk dimulainya produksi dapat dipersingkat. Tanaman buah-buahan dapat mulai menghasilkan dalam dua atau tiga tahun dengan kloning, sementara melalui biji petani harus menunggu paling cepat empat tahun ditambah resiko perubahan sifat akibat penggabungan dua sifat induk jantan dan betinanya (Anonimb 2009 : 1).
Reproduksi pada lumut dan paku berlangsung secara vegetatif dan generatif secara otomatis. Reproduksi ini disebut dengan pergilian (keturunan (metagenesis). Lumut dan paku mengalami anomali pada pembelahan mitosis dan meiosis (reduksi) yaitu gametogenesis berlangsung secara mitosis sedang sporulasi berlangsung sacara meiosis. Pada tumbuhan berbiji, hewan dan manusia maka gametogenesis berlangsung secara meiosis (reduksi) (Anonimc 2009 : 1).
Pada tumbuhan paku terjadi metagenesis. Tumbuhan paku merupakan generasi sporofit yang menghasilkan spora. Daun paku dibedakan menjadi dua macam, yaitu sporofil dan tropofil. Sporofil adalah daun yang bersifat fertil (subur), dapat menghasilkan spora: sedangkan tropofil adalah daun yang bersifat infertil (mandul). tidak dapat menghasilkan spora (Anonima 2009 : 1).
Reproduksi pada tumbuhan dari sel generatif dapat terjadi dengan pembuahan (amfimiksis), atau tanpa pembuahan (apomiksis) yaitu: Partenogenesis ( terbentuknya individu baru dari lembaga (ovum) tanpa dibuahi) dan Apogami (terbentuknya individu baru dari bagian lain non lembaga yaitu antipoda atau sinergid tanpa dibuahi) (Anonimc 2009 : 1).
1.2. Tujuan Praktikum
Praktikum ini mempunyai tujuan untuk mempelajari dan mengenal sistem reproduksi pada tumbuhan.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


Reproduksi atau perkembangbiakan adalah kemampuan organisme untuk menghasilkan organisme baru yang sama dengan dirinya. Bagi organisme, tujuan perkembangbiakan adalah agar suatu jenis mahluk hidup tidak mengalami kepunahan atau tetap lestari (Prawirohartono 2004 : 132).
Reproduksi pada tumbuhan dapat berlangsung secara vegetatif (aseksual = tidak kawin), generatif (seksual = kawin), dan metagenesis (vegetatif dan generatif secara bergantian) (Anonimc 2009 : 1).
Reproduksi vegetatif pada tumbuhan berbiji dapat dibedakan menjadi dua macam. yaitu reproduksi vegetatif alami dan reproduksi vegetatif buatan. Reproduksi vegetatif alami adalah reproduksi vegetatif yang terjadi secara alami (tanpa campur tangan manusia), sedangkan reproduksi vegetatif buatan adalah reproduksi vegetatif dengan bantuan manusia.
Reproduksi vegetatif sangat menolong tumbuhan dari kepunahan sebab tidak bergantung pada individu lain untuk reproduksinya. Reproduksi vegetatif pada tumbuhan misalnya:
a. Stolon (geragih)
Dari tumbuhan induk tumbuh cabang mendatar diatas tanah, kemudian pada buku-bukunya (ruas-ruas) tumbuh individual baru. Misalnya tumbuhan kaki kuda (centella asiatica), arbei.
b. Tuber (Umbi Batang)
Batang atau cabang batang yang tumbuh di dalam tanah dan mampu membentuk tunas dan akar baru. Bagian yang akan membentuk individu baru menjadi besar membentuk umbi. Misalnya pada kentang (solanum tuberosum).
c. Rimpang (rhizoma)
Batang atau cabang batang yang tumbuh menyerupai akar di dalam tanah. Rimpang masih memperlihatkan ciri sebagai batang yaitu berbuku-buku dan ada sisik sebagai modifikasi daun. Misalnya pada bunga tasbih (Canna edulis)
d. Umbi Lapis
Umbi lapis (bulbus) adalah batang yang tumbuh di dalam tanah. Batang tumbuhan ini berlapis-lapis yang merupakan suatu modifikasi daun. Misalnya pada bawang merah (Allium cepa L.)
e. Akar
Dari akar tumbuh tumbuhan baru, misalnya pada sukun.
f. Daun
Dari daun tumbuh tunas baru, sebab ada bagian daun yang bersifat meristematik. Misalnya pada daun cocor bebek (Anonim c 2009 : 1).
Reproduksi vegetatif pada tumbuhan di atas terjadi secara alami. Tumbuhan juga dapat dikembangbiakkan secara buatan dengan cara: mencangkok, stek, okulasi, merunduk, kultur jaringan dll (Anonoimc 2009 : 1).
Reproduksi vegetatif buatan atau perbanyakan vegetatif dalam pertanian dan botani merupakan sekumpulan teknik untuk menghasilkan individu baru tanpa melalui perkawinan (Anonimb 2009 : 1).
Perbanyakan vegetatif menghasilkan keturunan yang disebut klon. Karena itu, perbanyakan vegetatif dapat dikatakan sebagai suatu bentuk kloning ("pembuatan klon"). Klon sebenarnya adalah salinan penuh dari individu induknya karena mewariskan semua karakteristik genetik maupun fenotipik dari induknya. Fenotipe dapat berbeda pada beberapa teknik perbanyakan vegetatif tertentu yang merupakan gabungan dua individu (Anonimb 2009 : 1).
Reproduksi seksual pada tumbuhan terjadi pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji terbuka, misalnya pinus, cemara, melinjo, damar, dan pakis haji), dan Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup yaitu monokotil dan dikotil) (Anonimc 2009 : 1).
Bunga (flos) atau kembang adalah struktur reproduksi seksual pada tumbuhan berbunga (divisio Magnoliophyta atau Angiospermae, "tumbuhan berbiji tertutup"). Pada bunga terdapat organ reproduksi (benang sari dan putik). Bunga secara sehari-hari juga dipakai untuk menyebut struktur yang secara botani disebut sebagai bunga majemuk atau inflorescence. Bunga majemuk adalah kumpulan bunga-bunga yang terkumpul dalam satu karangan. Dalam konteks ini, satuan bunga yang menyusun bunga majemuk disebut floret (Anonimd 2009 : 1).
Pada tumbuhan, klon seringkali telah mencapai tingkat kedewasaan tertentu sewaktu ditanam sehingga biasanya disukai oleh petani karena waktu tunggu untuk dimulainya produksi dapat dipersingkat. Tanaman buah-buahan dapat mulai menghasilkan dalam dua atau tiga tahun dengan kloning, sementara melalui biji petani harus menunggu paling cepat empat tahun ditambah resiko perubahan sifat akibat penggabungan dua sifat induk jantan dan betinanya (Anonimb 2009 : 1).
Bunga berfungsi utama menghasilkan biji. Penyerbukan dan pembuahan berlangsung pada bunga. Setelah pembuahan, bunga akan berkembang menjadi buah. Buah adalah struktur yang membawa biji (Anonimd 2009 : 1).
Bunga adalah struktur reproduksi angiospermae. Pada sebagian besar angiospermae, serangga dan hewan lain mengangkut serbuk sari dari satu bunga ke organ kelamin betina pada bunga lain, yang membuat penyerbukan kurang acak dibandingkan dengan penyerbukan yang bergantung pada angin pada gimnosperma. Bunga adalah suatu tunas yang mampat dengan empat lingkaran daun termodifikasi; kelopak (sepal), mahkota (petal), benang sari (stamen), dan putik (karpel). Buah adalah ovarium yang sudah matang. Setelah biji berkembang selepas pembuahan, dinding ovarium menebal. Berbagai modifikasi pada buah membantu menyebarkan biji. Beberapa tumbuha berbunga, seperti dan delion dan mapel, memiliki biji pada buah yang berbentuk seperti baling-baling, yang meningkatkan penyebaran biji oleh angina. Namun demikian, sebagian besar angiospermae menggunakan hewan untuk membawa biji. Beberapa tumbuhan angiospermae memiliki buah yang dimodifikiasi sebagai duri yang menempel pada bulu hewan (atau pada pakaian manusia) (Campbell 2000 : 177).
Fungsi biologi bunga adalah sebagai wadah menyatunya gamet jantan (mikrospora) dan betina (makrospora) untuk menghasilkan biji. Proses dimulai dengan penyerbukan, yang diikuti dengan pembuahan, dan berlanjut dengan pembentukan biji
(Anonimd 2009 : 1).
Reproduksi pada tumbuhan dari sel generatif dapat terjadi dengan pembuahan (amfimiksis), atau tanpa pembuahan (apomiksis) yaitu: Partenogenesis (terbentuknya individu baru dari lembaga (ovum) tanpa dibuahi) dan Apogami (terbentuknya individu baru dari bagian lain non lembaga yaitu antipoda atau sinergid tanpa dibuahi)
(Anonimc 2009 : 1).
Bunga disebut bunga sempurna bila memiliki alat jantan (benang sari) dan alat betina (putik) secara bersama-sama dalam satu organ. Bunga yang demikian disebut bunga banci atau hermafrodit. Suatu bunga dikatakan bunga lengkap apabila memiliki semua bagian utama bunga, yaitu kelopak bunga, mahkota bunga, alat kelamin jantan (benang sari), dan alat kelamin betina (putik) (Anonimd 2009 : 1).
Organ reproduksi betina adalah daun buah atau carpellum yang pada pangkalnya terdapat bakal buah (ovarium) dengan satu atau sejumlah bakal biji (ovulum, jamak ovula) yang membawa gamet betina) di dalam kantung embrio. Pada ujung putik terdapat kepala putik atau stigma untuk menerima serbuk sari atau pollen. Tangkai putik atau stylus berperan sebagai jalan bagi pollen menuju bakal bakal buah (Anonimd 2009 : 1).
Reproduksi pada lumut dan paku berlangsung secara vegetatif dan generatif secara otomatis. Reproduksi ini disebut dengan pergilian (keturunan (metagenesis). Lumut dan paku mengalami anomali pada pembelahan mitosis dan meiosis (reduksi) yaitu gametogenesis berlangsung secara mitosis sedang sporulasi berlangsung sacara meiosis. Pada tumbuhan berbiji, hewan dan manusia maka gametogenesis berlangsung secara meiosis (reduksi) (Anonimc 2009 : 1).
Pada tumbuhan paku terjadi metagenesis. Tumbuhan paku merupakan generasi sporofit yang menghasilkan spora. Daun paku dibedakan menjadi dua macam, yaitu sporofil dan tropofil. Sporofil adalah daun yang bersifat fertil (subur), dapat menghasilkan spora: sedangkan tropofil adalah daun yang bersifat infertil (mandul). tidak dapat menghasilkan spora (Anonima 2009 : 1).




4.2. Pembahasan
Bunga Alamanda berwarna kuning berbentuk seperti terompet, mampu berbunga terus menerus. Batangnya keras dan bergetah. Alamanda tumbuhan perdu, berumur panjang (perenial), tinggi bisa mencapai 4 m. Batang berkayu, silindris, terkulai, warna hijau, permukaan halus, percabangan monopodial, arah cabang terkulai. Daun tunggal, bertangkai pendek, tersusun berhadapan (folia oposita), warna hijau, bentuk jorong, panjang 5 - 15 cm, lebar 2 - 5 cm, helaian daun tebal, ujung dan pangkal meruncing (acuminatus), tepi rata, permukaan atas dan bawah halus, bergetah. Bunga majemuk, bentuk tandan (racemus), muncul di ketiak daun dan ujung batang, mahkota berbentuk corong (infundibuliformis) - berwarna kuning, panjang mahkota 8 - 12 mm, daun mahkota berlekatan (gamopetalus). Buah kotak (capsula), bulat, panjang 1,5 cm, bentuk biji segitiga, berwarna hijau pucat saat muda - setelah tua menjadi hitam. Akar tunggang (Anonimd 2009 : 1).
Carica papaya adalah semak berbentuk pohon dengan batang yang lurus dan bulat. Bagian atas bercabang atau tidak, sebelah dalam berupa spons dan berongga, sebelah luar banyak tanda bekas daun. Tinggi pohon 2,5-10 m, tangkai daun bulat berongga, panjang 2,5-10 m, daun bulat atau bulat telur, bertulang daun menjari, tepi bercangap, berbagi menjari, ujung runcing garis tengah 25-75 cm, sebelah atas berwarna hijau tua, sebelah bawah hijau agak muda daun licin dan suram, pada tiap tiga lingkaran batang terdapat 8 daun. Bunga hampir selalu berkelamin satu atau berumah dua, tetapi kebanyakan dengan beberapa bunga berkelamin dua pada karangan bunga yang jantan. Bunga jantan pada tandan yang serupa malai dan bertangkai panjang, berkelopak sangat kecil mahkota berbentuk terompet berwarna putih kekuningan, dengan tepi yang bertaju lima, dan tabung yang panjang, langsing, taju berputar dalam kuncup, kepala sari bertangkai pendek, dan duduk bunga betina kebanyakan berdiri sendiri, daun mahkota lepas dan hampir lepas, putih kekuningan, bakal buah beruncing satu, kepala putik lima duduk,. Buah buni bulat telur memanjang, biji banyak, dibungkus oleh selaput yang berisi cairan, didalamnya berduri. Berasal dari Amerika, ditanam sebagai pohon buah. Tanaman ini dapat dijumpai hampir di seluruh kepulauan Indonesia (Anonime 2009 : 1).
Hampir semua konifer adalah evergreen (selalu hijau, tak luruh), yang berarti mereka tetap mempertahankan daunnya sepanjang tahun. Selama musim dingin sekalipun fotosintesis terbatas pada hari-hari yang cerah. Dan ketika musim semi datang, konifer telah memiliki daun yang telah berkembang seutuhnya. Daun berbentuk jarum pada pinus diadaptasikan dengan kondisi kering. Suatu kutikula tebal menutupi daun, dan stomata terletak dibagian bawah, mengurangi kehilangan air (Campbell 2000 : 173-174).
Coniferales berarti tumbuhan pembawa kerucut, karena alat perkembangbiakan jantan dan betina berupa strobilus berbentuk kerucut. Tumbuhan yang termasuk kelompok ini memiliki ciri selalu hijau sepanjang tahun (evergreen)
(Anonimb 2009 : 1).
Ciri-ciri Angiospermae memiliki bakal biji atau biji yang tertutup oleh daun buah, mempunyai bunga sejati, umumnya tumbuhan berupa pohon, perdu, semak, liana dan herba. Dalam reproduksi terjadi pembuahan ganda. Angiospermae dibedakan menjadi dua yaitu Monocotyledoneae (berkeping satu) dan Dicotyledoneae (berkeping dua). Ciri-ciri monocotyledoneae mempunyai biji berkeping satu, berakar serabut, batangnya dari pangkal sampai ujung hampir sama besarnya. Umumnya tidak bercabang. Akar dan batang tidak berkambium. Ciri-ciri dicotyledoneae mempunyai biji jumlah kepingnya dua, berakar tunggang, batang dari pangkal besar makin ke atas makin kecil. Batang bercabang, akar dan batang berkambium Ciri-ciri gymnospermae tidak mempunyai bunga sejati, tidak ada mahkota bunganya. Bakal biji terdapat di luar permukaan dan tidak dilindungi oleh daun buah, merupakan tumbuhan heterospora yaitu menghasilkan dua jenis spora berlainan, megaspora membentuk gamet betina, sedangkan mikrospora menghasilkan serbuk sari, struktus reproduksi terbentuk di dalam strobilus. Dalam reproduksi terjadi pembuahan tunggal (Anonime 2009 : 1).
Batang Vanda sp beruas-ruas tertutup pelepah daun. Daunnya berbentuk v berwarna hijau cerah. Tandan bunga keluar dari tengah batang yang masih berdaun. Vanda sp memiliki ukuran bunga kecil, kira-kira 5 cm, baunya sangat wangi, serta warna coklat kekuning - kuningan dengan splash-splash kuning dengan lidah warna ungu muda.


BAB V
KESIMPULAN


Dari praktikum yang telah dilaksanakan, maka dapat disimpulkan :
1.Reproduksi (perkembangbiakan) merupakan salah satu ciri makhluk hidup. Dengan reproduksi maka makhluk hidup dapat mempertahankan kelangsungan jenisnya (spesies) sehingga tidak punah.
2.Reproduksi pada tumbuhan terdiri dari reproduksi vegetatif (aseksual) dan reproduksi generatif (seksual).
3.Reproduksi vegetatif pada tumbuhan berbiji dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu reproduksi vegetatif alami dan reproduksi vegetatif buatan.
4.Reproduksi vegetatif pada tumbuhan seperti stolon, tuber, rimpang, umbi lapis, akar, dan daun.
5.Reproduksi vegetatif buatan atau perbanyakan vegetatif dalam pertanian dan botani merupakan sekumpulan teknik untuk menghasilkan individu baru tanpa melalui perkawinan.



DAFTAR PUSTAKA


Anonima. 2009. Reproduksi (Perkembangbiakan). Artikel. 17 Maret 2009.
Anonimb. 2009. Reproduksi Vegetatif. Artikel. 17 Maret 2009.
Anonimc. 2009. Reproduksi. Artikel. 17 Maret 2009.
Anonimd. 2009. Bunga. Artikel. 18 Maret 2009.
Anonime. 2009. Papaya (Carica papaya). 25 Maret 2009.
Campbell, R. 2000. Biologi Edisi Kelima Jilid Dua. Jakarta : v + 440 hlm.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar